Ada orang yang sulit diajak berbicara bukan karena ia tidak memiliki pengetahuan, tetapi karena ia merasa harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Dalam setiap percakapan, ia sibuk menunjukkan kepakaran, memberikan penilaian, atau membuktikan bahwa pendapatnya paling benar. Akibatnya, orang lain tidak merasa sedang berbicara dengan seorang teman, melainkan sedang berhadapan dengan seseorang yang selalu ingin mengajar.
Menjadi orang yang berpengetahuan tentu bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika pengetahuan membuat kita berhenti belajar. Kita merasa sudah cukup tahu tentang pekerjaan, kehidupan, kepemimpinan, bahkan tentang orang lain. Padahal, semakin banyak pengalaman yang kita miliki, seharusnya semakin kita menyadari bahwa masih banyak hal yang belum kita pahami.
Setiap Orang Membawa Pelajaran
Salah satu prinsip yang menarik dari John C. Maxwell dalam Winning with People adalah bahwa setiap orang yang kita jumpai memiliki potensi untuk mengajarkan sesuatu kepada kita. Saya kira ini bukan sekadar prinsip tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga cara pandang terhadap kehidupan.
Bayangkan jika setiap pertemuan kita lihat sebagai kesempatan belajar. Bertemu dengan orang yang lebih tua mungkin mengajarkan kita tentang pengalaman. Bertemu dengan orang yang lebih muda bisa memperlihatkan cara pandang yang berbeda. Bahkan orang yang tidak kita sukai pun kadang membawa pelajaran tentang bagaimana manusia berpikir, mengambil keputusan, atau memperlakukan orang lain.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa pengetahuan manusia selalu memiliki batas. Allah berfirman, “Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76). Ayat ini seharusnya membuat kita lebih rendah hati. Sebanyak apa pun yang kita ketahui, selalu ada ruang untuk belajar dari orang lain.
Rendah Hati Bukan Berarti Merendahkan Diri
Terbuka untuk belajar bukan berarti kita harus menganggap semua pendapat orang lain benar. Kita tetap perlu memiliki prinsip, kemampuan menilai, dan keberanian untuk berbeda pendapat. Kerendahan hati justru membuat kita mampu mendengarkan tanpa merasa terancam ketika menemukan pandangan yang tidak sama dengan pandangan kita.
Ada perbedaan besar antara mendengarkan untuk memahami dan mendengarkan untuk mencari kesalahan. Orang yang benar-benar ingin belajar akan bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari dari orang ini?” sebelum bertanya, “Di mana letak kesalahannya?”
Sikap seperti ini juga membuat kita lebih mudah didekati. Orang cenderung nyaman berada di sekitar seseorang yang mau mendengarkan, bukan hanya seseorang yang selalu ingin didengarkan. Ketika orang merasa pendapat dan pengalamannya dihargai, hubungan pun tumbuh dengan lebih alami.
Bahkan Orang yang Berbeda Bisa Mengajari Kita
Dalam kehidupan kerja, kita sering bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan yang tidak kita miliki. Ada bawahan yang mungkin lebih memahami detail pekerjaan daripada atasannya. Ada rekan kerja yang memiliki cara berpikir lebih sederhana tetapi justru menemukan solusi yang tidak terpikirkan oleh kita. Ada pula orang yang secara pengalaman mungkin jauh di bawah kita, tetapi memiliki satu kualitas yang belum kita miliki.
Karena itu, posisi, jabatan, usia, atau gelar tidak selalu menentukan siapa yang dapat mengajari kita. Seorang pemimpin yang hanya mau belajar dari orang yang lebih tinggi jabatannya akan kehilangan banyak pelajaran yang sebenarnya ada di sekitarnya.
Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan pentingnya hikmah dan pengetahuan. Dalam sebuah hadits yang sahih, beliau bersabda bahwa hikmah adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin; di mana pun ia menemukannya, ia paling berhak mengambilnya. (HR. Tirmidzi, no. 2687; dinilai hasan oleh sebagian ulama).
Pesannya menarik: jangan terlalu sibuk melihat siapa yang menyampaikan sesuatu sampai kita gagal melihat apa yang bisa kita pelajari darinya.
Orang Akan Lebih Mudah Dekat dengan Kita
Ada manfaat lain yang sering luput kita sadari. Ketika kita terbuka untuk belajar dari orang lain, orang juga menjadi lebih nyaman berada di sekitar kita.
Bayangkan dua orang pemimpin. Yang pertama selalu berbicara tentang apa yang ia ketahui, jarang bertanya, dan hampir tidak pernah mengakui bahwa orang lain mungkin memiliki jawaban yang lebih baik. Yang kedua juga memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, tetapi ia senang bertanya, mendengarkan, dan mengatakan, “Saya belum pernah melihatnya dari sudut pandang itu.” Kepada siapa Anda lebih nyaman berbicara?
Menariknya, menjadi pembelajar tidak membuat wibawa seseorang berkurang. Justru sering kali sebaliknya. Orang menghormati seseorang yang memiliki pengetahuan tetapi tetap memiliki kerendahan hati untuk mengatakan, “Saya bisa belajar dari Anda.”
Jangan Sampai Pengalaman Menutup Pintu Belajar
Pengalaman memang penting. Tetapi pengalaman juga bisa menjadi jebakan ketika kita menggunakannya sebagai alasan untuk menolak sesuatu yang baru.
Kalimat seperti “Saya sudah puluhan tahun melakukan ini” kadang bukan tanda kedalaman pengalaman, melainkan tanda bahwa seseorang sudah terlalu nyaman dengan caranya sendiri. Dunia berubah, manusia berubah, dan persoalan yang kita hadapi hari ini tidak selalu sama dengan persoalan yang kita hadapi sepuluh atau dua puluh tahun lalu.
Karena itu, semakin lama kita bekerja dan semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semestinya semakin besar pula rasa ingin tahu kita. Bukan semakin cepat kita berkata, “Saya sudah tahu.”
Mungkin salah satu bentuk kedewasaan adalah kemampuan untuk tetap menjadi murid, bahkan ketika orang lain sudah memandang kita sebagai seorang ahli.
Jadilah Orang yang Masih Bisa Diajar
Kita tidak harus belajar sesuatu yang besar dari setiap orang. Kadang pelajarannya sederhana: cara seseorang memperlakukan bawahannya, cara seorang ibu menghadapi anaknya, cara seorang pedagang melayani pelanggan, atau cara seseorang menghadapi kegagalan tanpa banyak mengeluh.
Kalau kita terbuka, kehidupan sehari-hari sebenarnya penuh dengan guru. Mereka datang dalam berbagai usia, profesi, karakter, dan latar belakang. Persoalannya bukan apakah ada yang bisa mengajari kita, tetapi apakah kita masih bersedia belajar.
Mungkin karena itu, kita tidak perlu selalu berusaha menjadi orang yang paling tahu dalam sebuah ruangan. Sesekali datanglah sebagai orang yang ingin memahami. Dengarkan lebih banyak. Ajukan pertanyaan. Perhatikan bagaimana orang lain berpikir dan menjalani hidupnya.
Sebab bisa jadi, orang yang hari ini kita anggap hanya sebagai seseorang yang kita temui secara kebetulan, sebenarnya sedang membawa sebuah pelajaran yang kita perlukan untuk perjalanan hidup kita berikutnya. [af]







Tinggalkan Balasan