Anda Adalah Lensa Anda: Cara Memandang Orang Lain Mencerminkan Diri

“Sebelum bertanya seperti apa orang-orang yang akan saya temui, tanyakan dulu: orang seperti apa yang akan mereka temui dalam diri saya?”

Bagikan:

anda adalah lensa anda
Daftar Isi

Pernahkah Anda memperhatikan dua orang yang bekerja di tempat yang sama, menghadapi orang-orang yang sama, tetapi pulang dengan kesimpulan yang sangat berbeda? Yang satu berkata, “Orang-orang di sini susah diajak kerja sama.” Yang lain berkata, “Asal didekati dengan benar, mereka sebenarnya baik.” Keduanya merasa sedang menggambarkan kenyataan, padahal kenyataannya sama. Yang berbeda adalah lensa yang mereka pakai untuk melihat.

Gagasan ini sederhana tetapi jarang kita sadari: siapa diri kita ikut menentukan apa yang kita lihat. Kita tidak pernah benar-benar memandang orang lain secara netral. Pengalaman, luka, harapan, dan karakter kita sendiri selalu ikut terbawa, seperti kacamata yang lupa sedang kita kenakan.

Kisah Dua Musafir dan Seorang Tua di Pinggir Jalan

John C. Maxwell, dalam bukunya Winning with People, menceritakan sebuah kisah lama yang menggambarkan hal ini dengan sangat jernih. Seorang musafir yang hendak memasuki sebuah kota bertanya kepada seorang tua di tepi jalan, seperti apa penduduk kota itu. Orang tua itu tidak langsung menjawab, tetapi balik bertanya tentang penduduk kota yang baru saja ditinggalkan si musafir. Musafir itu menjawab dengan kesal bahwa mereka jahat, tidak bisa dipercaya, dan menyebalkan. Orang tua itu lalu berkata bahwa ia akan menemukan orang-orang yang serupa di kota ini.

Tidak lama kemudian, datang musafir kedua dengan pertanyaan yang sama. Orang tua itu kembali menanyakan kota sebelumnya, dan musafir kedua menggambarkan penduduknya sebagai orang-orang jujur, rajin, dan pemaaf. Jawaban orang tua itu pun berbeda: orang-orang seperti itulah yang akan ia temui di sini.

Orang tua itu tidak sedang meramal. Ia hanya memahami satu hal yang sering luput dari kita: kota yang sama bisa terasa sangat berbeda, tergantung siapa yang memasukinya. Pertanyaan “seperti apa orang-orang di sana?” sering kali jawabannya sudah dibawa oleh si penanya sejak awal.

Mengapa Kita Melihat Apa yang Sudah Kita Bawa

Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi. Pertama, perhatian kita selalu selektif. Dalam satu hari, kita bertemu ratusan perilaku kecil dari orang lain, dan kita hanya mengingat sebagian kecil saja. Orang yang sudah yakin bahwa manusia pada dasarnya licik akan lebih mudah mencatat satu kebohongan kecil daripada sepuluh kejujuran yang biasa-biasa saja. Bukan karena kejujuran itu tidak ada, tetapi karena ia tidak sedang mencarinya.

Kedua, sebagian besar perilaku manusia sebenarnya ambigu, dan kitalah yang mengisi maknanya. Rekan kerja yang tidak membalas pesan bisa dianggap sibuk, bisa juga dianggap meremehkan. Teman yang diam dalam rapat bisa dibaca sebagai sedang berpikir, bisa juga dibaca sebagai tidak peduli. Tafsiran mana yang kita pilih biasanya lebih banyak ditentukan oleh isi kepala kita daripada oleh orang tersebut.

Ketiga, cara kita memandang orang lain ikut membentuk cara mereka memperlakukan kita. Inilah bagian yang paling menarik dari kisah dua musafir. Musafir pertama kemungkinan besar akan memasuki kota baru dengan wajah curiga, nada bicara ketus, dan sikap defensif. Orang-orang yang ia temui akan merespons sikap itu dengan cara yang sama, dan pada akhirnya ia berkata, “Benar, kan? Mereka memang menyebalkan.” Prasangkanya tidak hanya menafsirkan kenyataan, tetapi ikut menciptakannya.

Lensa yang Bekerja Diam-Diam dalam Pekerjaan dan Kepemimpinan

Dalam dunia kerja, lensa ini bekerja hampir setiap hari tanpa kita sadari. Ambil contoh seorang pemimpin yang sejak awal tidak percaya pada timnya. Ia memeriksa setiap detail, meminta laporan berlapis, dan jarang memberi ruang untuk mengambil keputusan. Lama-kelamaan, timnya berhenti berinisiatif karena merasa setiap langkah akan dikoreksi. Pemimpin itu kemudian menyimpulkan bahwa timnya memang pasif dan harus diawasi ketat. Lingkaran itu terus berputar, dan ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya adalah titik awal lingkaran tersebut.

Sebagai ilustrasi lain, bayangkan dua orang petugas lapangan yang ditugaskan menggalang dukungan di wilayah yang sama. Yang satu pulang dan melapor, “Orang-orang di daerah ini sulit diajak berbagi.” Yang lain justru menemukan beberapa orang yang ingin terlibat, bahkan secara rutin. Wilayahnya sama, masyarakatnya sama, tetapi cara mereka mengetuk pintu, membuka percakapan, dan menafsirkan penolakan pertama sangat berbeda. Kesimpulan tentang “orang-orang di sini” sering kali adalah kesimpulan tentang cara kita datang kepada mereka.

Hal yang sama berlaku dalam dakwah. Seorang dai yang memandang jamaahnya sebagai orang awam yang keras kepala akan berbicara dengan nada menghakimi, dan jamaah pun menjauh. Sebaliknya, dai yang memandang mereka sebagai manusia yang menyimpan fitrah kebaikan akan lebih sabar mencari pintu masuk. Rasulullah ﷺ bahkan memberi peringatan yang cukup tajam tentang sikap yang memandang rendah orang lain: “Apabila seseorang berkata, ‘Manusia telah binasa,’ maka dialah yang paling binasa di antara mereka” (HR. Muslim no. 2623). Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa celaan ini ditujukan kepada orang yang mengucapkannya karena merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih baik. Kalimat yang terdengar seperti penilaian tentang masyarakat ternyata lebih banyak mengungkap keadaan hati orang yang mengucapkannya.

Bukan Berarti Semua Orang Baik

Tentu saja, gagasan ini tidak berarti kita harus menutup mata terhadap kenyataan. Ada lingkungan yang memang tidak sehat, ada orang yang memang tidak bisa dipercaya, dan ada pengalaman buruk yang memang nyata. Musafir pertama bisa saja benar-benar pernah ditipu di kota sebelumnya. Mengatakan bahwa semua masalah hanya ada di kepala kita adalah bentuk penyederhanaan yang lain.

Persoalannya bukan pada mengakui keburukan, tetapi pada menjadikan satu atau beberapa pengalaman buruk sebagai kacamata permanen. Luka yang tidak diproses dengan baik cenderung berubah menjadi kesimpulan umum. Dari “orang itu menipu saya” bergeser menjadi “orang-orang di sana penipu”, lalu akhirnya menjadi “manusia memang tidak bisa dipercaya.” Pada titik itu, kita tidak lagi melihat orang di depan kita, melainkan bayangan dari orang-orang di masa lalu.

Al-Qur’an memberi batas yang sangat jelas dalam hal ini: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa” (QS. Al-Hujurat: 12). Menarik bahwa ayat ini tidak menyuruh kita menjauhi semua prasangka, melainkan banyak dari prasangka. Islam tidak meminta kita naif. Waspada tetap boleh, berhati-hati tetap perlu, tetapi menjadikan curiga sebagai cara utama memandang manusia adalah hal yang berbeda sama sekali.

Membersihkan Lensa, Bukan Mengganti Dunia

Jika memang lensa kita ikut menentukan apa yang kita lihat, maka pertanyaannya berubah. Bukan lagi “bagaimana mengubah orang-orang di sekitar saya?”, tetapi “lensa seperti apa yang selama ini saya pakai?” Pertanyaan ini lebih tidak nyaman, tetapi jauh lebih berguna, karena ia mengembalikan kendali kepada satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita ubah.

Salah satu cara praktis untuk memulainya adalah memperhatikan generalisasi yang sering kita ucapkan. Kalimat seperti “anak muda sekarang…”, “orang kantor pusat itu…”, atau “masyarakat di sini…” layak untuk diperiksa ulang. Tanyakan pada diri sendiri: berapa banyak orang yang sebenarnya saya kenal dari kelompok itu? Apakah kesimpulan ini lahir dari pengamatan yang adil, atau dari dua-tiga pengalaman yang kebetulan paling membekas?

Cara lain adalah mencoba memberi tafsiran kedua setiap kali kita menilai sikap seseorang. Jika tafsiran pertama kita negatif, cari setidaknya satu kemungkinan lain yang masuk akal. Ini bukan soal memaksa diri berpikir positif, melainkan soal melatih kejujuran intelektual. Sering kali, tafsiran kedua itu justru lebih dekat dengan kenyataan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya” (HR. Abu Dawud no. 4918, dinilai hasan oleh Al-Albani). Cermin yang baik memantulkan apa adanya, tidak membesar-besarkan noda dan tidak menyembunyikannya. Untuk bisa menjadi cermin seperti itu bagi orang lain, kita perlu lebih dulu memastikan bahwa kaca kita sendiri tidak buram oleh kecurigaan, kekecewaan lama, atau rasa lebih baik dari orang lain.

Kota Berikutnya yang Akan Anda Masuki

Pada akhirnya, kita semua adalah musafir yang terus memasuki kota-kota baru: tempat kerja baru, tim baru, jamaah baru, lingkungan baru, bahkan fase hidup yang baru. Dan setiap kali, kita membawa sesuatu dari kota sebelumnya. Yang menentukan pengalaman kita di sana bukan hanya seperti apa penduduknya, tetapi juga siapa yang datang.

Orang tua di pinggir jalan itu sebenarnya tidak sedang berbicara tentang kota. Ia sedang berbicara tentang para musafir. Maka mungkin, sebelum bertanya “seperti apa orang-orang yang akan saya temui?”, ada pertanyaan yang lebih jujur untuk diajukan lebih dulu: orang seperti apa yang akan mereka temui ketika bertemu dengan saya? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *