Kata safar biasanya langsung membawa pikiran kita ke koper, tiket, dan jadwal keberangkatan. Kita menghitung jarak, memperkirakan waktu tiba, dan menyiapkan bekal secukupnya. Karena itu, ketika perjalanan selesai, kita merasa urusannya sudah tuntas. Padahal ada satu perjalanan lain yang berjalan terus tanpa pernah kita catat di kalender.
Imam al-Ghazali membedakan dua jenis safar. Yang pertama adalah perjalanan lahir di permukaan bumi, melewati segala liku jalannya. Yang kedua adalah perjalanan batin menuju Allah dan akhirat. Pembedaan ini terdengar sederhana, tetapi mengubah cara kita menilai hidup, sebab seseorang bisa sangat sering berpindah tempat tanpa pernah benar-benar berangkat ke mana pun.
Dua Perjalanan, Satu Ayat
Al-Qur’an menyebut dua perjalanan ini sekaligus dalam satu ayat:
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat: 53)
Kata al-āfāq (segenap penjuru) menunjuk ke luar diri, sedangkan anfusihim (diri mereka sendiri) menunjuk ke dalam. Dengan membaca ayat ini bersama penjelasan al-Ghazali, kita bisa melihat bahwa perjalanan lahir sebenarnya memperlihatkan banyak tanda, tetapi tanda-tanda itu baru bermakna ketika perjalanan batin ikut berjalan. Tanpa yang kedua, kita hanya menjadi saksi pemandangan. Kita melihat banyak tempat dan bertemu banyak orang, tetapi tidak membawa pulang apa-apa selain cerita.
Ibrahim dan Perjalanan yang Tidak Selesai di Peta
Al-Qur’an menyimpan satu kalimat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang pendek namun padat:
وَقَالَ اِنِّىْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
“Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. As-Saffat: 99)
Ibrahim memang meninggalkan kaumnya, jadi ada perpindahan fisik di sana. Tetapi kalimatnya tidak menyebut kota tujuan. Yang ia sebut adalah ilā rabbī, kepada Tuhanku, dan itu menunjukkan bahwa arah perjalanannya ditentukan oleh tujuan batinnya, bukan oleh letak geografis. Ia juga tidak mengaku tahu jalannya. Ia hanya yakin bahwa Allah akan menunjukkan.
Dalam penjelasan yang dikutip KH. GT. Abdul Muis dari al-Ghazali, perjalanan semacam ini dipahami sebagai perjalanan sepanjang hayat, yaitu proses membersihkan jiwa dari pengaruh dunia dan segala kelezatannya. Karena perjalanannya sepanjang usia, ia tidak punya garis finis yang bisa kita rayakan di tengah jalan. Kita hanya bisa bertanya apakah hari ini kita sedang mendekat atau sedang menjauh.
Empat Perhentian di Jalan Batin
Perjalanan yang panjang membutuhkan tempat singgah, dan al-Ghazali menyebut empat perhentian utama. Keempatnya tidak harus dibaca sebagai tangga yang dilalui satu per satu. Lebih tepat, keempatnya adalah empat hal yang perlu terus dicek di sepanjang jalan.

Pertama, menjinakkan hati kepada Allah. Caranya dengan zikir, baik dengan lidah maupun dengan ingatan hati, dan dengan membiasakan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa kita selalu berada dalam pengawasan-Nya. Jika kesadaran ini mulai terbentuk, itu tanda bahwa cahaya iman yang Allah letakkan di dada seorang mukmin sedang menyala. Perhatikan bahwa yang dijinakkan adalah hati, bukan hanya lisan, karena hati yang liar akan terus lari ke mana-mana sementara mulut tetap berzikir.
Kedua, berusaha keras menjauhi ghaflah, yaitu lupa dan lalai. Persoalannya bukan hanya soal kualitas ibadah, tetapi juga soal sampai atau tidaknya doa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengingatkan bahwa doa bisa saja diucapkan dengan lancar, tetapi hati kita sedang berada di tempat lain. Kita semua pernah berdoa sambil memikirkan agenda hari itu, dan di situlah ghaflah bekerja diam-diam. Obatnya adalah hadir, bukan sekadar menambah jumlah doa.
Ketiga, menghadirkan hati bersama Allah dan merasa sangat faqir di hadapan-Nya. Hati yang faqir tidak mudah dilalaikan oleh keinginan nafsu kebendaan dan tujuan duniawi semata. Ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, melainkan untuk menjaga agar dunia tidak menjadi satu-satunya alasan kita bergerak. Orang yang merasa dirinya butuh akan selalu menoleh kepada Yang Mencukupi.
Keempat, selalu benar dalam maksud dan harapan. Maksud dan harapan yang benar melahirkan niat yang ikhlas. Rasulullah ﷺ menegaskan prinsip ini dalam hadits yang sangat terkenal: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Perhentian keempat ini menentukan nilai semua perhentian sebelumnya, sebab zikir yang tidak lurus tujuannya hanya akan menjadi rutinitas yang rapi.
Mengapa Ini Penting bagi Orang yang Banyak Bergerak
Bayangkan seseorang yang pekerjaannya menuntut perjalanan terus-menerus: mengunjungi cabang, bertemu mitra, mengisi acara, dan menyelesaikan target di lapangan. Hari-harinya padat, dan dari luar ia tampak sangat produktif. Tetapi suatu malam, di kamar penginapan, ia menyadari bahwa tubuhnya sudah sampai di banyak tempat sementara hatinya tidak ke mana-mana. Ini sekadar ilustrasi, tetapi saya kira banyak dari kita yang pernah mengalami versinya sendiri.
Masalahnya jarang berupa kemalasan. Justru kesibukan yang tinggi sering membuat perjalanan batin terasa tidak mendesak, karena perjalanan lahir sudah menghasilkan banyak bukti kerja. Ada laporan, ada angka, dan ada foto kegiatan. Perjalanan batin tidak punya bukti sebanyak itu, sehingga mudah tergeser ke bagian paling bawah daftar prioritas.
Karena itu, empat perhentian tadi bisa dipakai sebagai pertanyaan singkat yang kita ajukan pada diri sendiri di sela perjalanan. Apakah hari ini hati saya sempat berzikir, atau hanya lisan? Apakah doa saya tadi hadir, atau lalai? Apakah saya masih merasa butuh kepada Allah, atau sudah merasa semuanya bergantung pada rencana saya? Apakah niat saya masih lurus, atau sudah bergeser pelan-pelan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak membutuhkan waktu khusus, cukup kejujuran.
Pintu yang Tidak Boleh Tertutup
Dalam penjelasan al-Ghazali yang dikutip di atas, ada peringatan keras: orang yang tertutup baginya pintu perjalanan menuju ma’rifatullah sama saja tertutup baginya segala pintu kebajikan. Peringatan ini terasa berat, tetapi logikanya masuk akal. Segala kebajikan lahir dari hubungan yang benar dengan Allah, sehingga ketika hubungan itu terputus, kebajikan yang tersisa hanya menjadi kebiasaan baik tanpa akar.
Maka segala adab yang tercatat dalam sunnah dan perjalanan hidup para sahabat dapat dibaca sebagai penjelasan tentang perjalanan ini, yaitu perjalanan menuju akhirat. Adab makan, adab bertamu, dan adab bepergian bukan sekadar sopan santun sosial. Semuanya adalah cara latihan agar hati terbiasa terarah, bahkan ketika kita sedang mengerjakan hal-hal yang tampak biasa.
Sudah Sejauh Mana?
Kita cukup pandai menghitung jarak yang sudah ditempuh secara lahir, misalnya berapa kilometer, berapa kota, dan berapa jam di perjalanan. Tetapi hampir tidak pernah kita bertanya sudah sejauh mana hati ini berjalan. Mungkin itu sebabnya perjalanan batin sering terasa samar: kita tidak punya satuan ukurnya.
Barangkali ukurannya memang bukan jarak, melainkan arah. Hari ini kita boleh jadi hanya berpindah dari rumah ke kantor, tetapi jika hati kita sedikit lebih hadir dan niat kita sedikit lebih lurus dibanding kemarin, kita sedang berjalan ke arah yang benar. Pertanyaan yang tersisa sederhana saja: jika semua perjalanan lahir kita hari ini dihapus dari catatan, apa yang masih tersisa dari perjalanan kita yang satunya lagi? []







Tinggalkan Balasan