Catatan dari Kota Mangkuk: Perjalanan Perdana ke Bandung

“Perjalanan yang sekadar dikunjungi menghasilkan foto. Perjalanan yang benar-benar dialami menghasilkan cara pandang.”

Bagikan:

the great asia afrika kota bandung
Daftar Isi

Ada kota yang kita kunjungi lalu cepat lupa. Ada juga kota yang masih teringat walaupun kunjungannya singkat. Beberapa waktu lalu saya untuk pertama kalinya berkesempatan ke Kota Bandung, dan kota ini masuk ke golongan kedua. Kotanya padat, jalannya sering macet, dan waktu saya terbatas. Anehnya saya tetap menikmatinya, dan itu membuat saya bertanya: sebenarnya apa yang membuat sebuah kota terasa berkesan?

Kota Padat yang Tetap Bisa Dinikmati

Bandung adalah ibu kota Jawa Barat dan salah satu kawasan metropolitan terbesar di Indonesia. Letaknya sekitar 140 km di sebelah tenggara Jakarta, dan kepadatan penduduknya termasuk yang tertinggi di negeri ini. Karena itu kemacetan menjadi pemandangan biasa, terutama pada jam-jam sibuk. Bagi pendatang yang waktunya pendek, kondisi ini bisa membuat banyak jam habis hanya di dalam kendaraan.

Dari situ saya belajar satu hal praktis. Kalau datang sendiri atau berdua, menyewa motor jauh lebih masuk akal daripada mobil. Motor membuat kita lebih leluasa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berhenti di sudut yang menarik, dan tidak terlalu bergantung pada lancarnya jalan. Ini terdengar sepele, tetapi cara kita bergerak di sebuah kota sangat menentukan seberapa banyak kota itu bisa kita nikmati.

Pelajaran ini sebenarnya berlaku juga di luar urusan wisata. Dalam pekerjaan dan organisasi, sering kali yang membuat kita tidak menikmati sesuatu bukan tempatnya, tetapi cara kita mendekatinya. Kita memaksa memakai “kendaraan besar” untuk medan yang sempit. Menyesuaikan alat dengan medan adalah kebijaksanaan kecil yang menghemat banyak energi.

Rahasia Sejuknya: Bandung Itu Sebuah Mangkuk

Hal pertama yang membuat saya terkesan adalah udaranya yang sejuk. Untuk kota sepadat itu, rasanya tidak biasa. Penjelasannya ternyata ada pada bentuk wilayahnya. Secara morfologi, Bandung seperti mangkuk raksasa: kotanya berada di tengah cekungan yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan.

Saya suka gambaran mangkuk ini karena memberi cara lain melihat sebuah tempat. Kita sering menilai kota dari apa yang ada di dalamnya, seperti gedung, jalan, dan pusat belanja. Padahal karakter Bandung justru banyak dibentuk oleh apa yang mengelilinginya. Gunung-gunung di sekitarnya yang memberi udara, pemandangan, dan suasana yang membuat orang betah.

Manusia pun sering begitu. Watak seseorang tidak hanya dibentuk oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungan yang melingkupinya, yaitu keluarga, teman, dan tempat ia bekerja. Kalau ingin memahami seseorang, kadang yang perlu kita lihat adalah “pegunungan” di sekelilingnya.

Paris van Java dan Jejak Sejarah di Pusat Kota

Bandung punya banyak julukan, dan yang paling terkenal adalah Paris van Java. Dalam otobiografi Entin Supriatin berjudul Deritapun Dapat Ditaklukan, disebutkan bahwa julukan ini muncul karena dulu di Jalan Braga banyak toko yang menjual barang-barang, khususnya fesyen, buatan Paris. Sebuah julukan yang lahir dari aktivitas dagang ternyata bertahan sampai sekarang dan menjadi identitas kota.

Karena waktu terbatas, saya memilih beberapa tempat saja. Salah satunya Alun-Alun Kota Bandung. Di kawasan ini kita bisa sekaligus melihat Masjid Raya Bandung, Tugu Asia Afrika, dan deretan gedung tua peninggalan masa kolonial. Dalam satu area yang tidak terlalu luas, kita bisa merasakan lapisan-lapisan sejarah kota: masa penjajahan, masa perjuangan, dan kehidupan masyarakatnya hari ini.

Nama Asia Afrika di jantung kota juga bukan kebetulan. Bandung pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika tahun 1955, ketika bangsa-bangsa yang baru merdeka berkumpul untuk saling mengenal dan menyuarakan kepentingan bersama. Kota ini, dalam arti tertentu, pernah menjadi tempat bangsa-bangsa belajar ta’aruf. Al-Qur’an menyebut bahwa manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13). Berdiri di kawasan itu membuat saya sadar bahwa sebuah kota bisa menyimpan pesan yang jauh lebih besar dari ukuran wilayahnya.

The Great Asia Afrika: Belajar Keragaman dalam Satu Kawasan

Tempat kedua yang saya kunjungi adalah The Great Asia Afrika di daerah Lembang. Ini taman bertema Asia dan Afrika dengan replika perkampungan, kebun binatang kecil, kuliner, dan suvenir dari berbagai negara. Daya tarik utamanya adalah sensasi “berkeliling tujuh negara” tanpa harus ke luar negeri. Dilihat dari atas pun kawasannya tertata menarik.

Menurut saya tempat ini sangat cocok untuk wisata keluarga karena nilai edukasinya kuat. Anak-anak bisa melihat langsung bahwa dunia ini beragam: rumahnya berbeda, pakaiannya berbeda, makanannya berbeda. Pengalaman seperti ini lebih membekas daripada sekadar membaca di buku pelajaran.

Al-Qur’an menyebut perbedaan bahasa dan warna kulit manusia sebagai salah satu tanda kebesaran Allah (QS. Ar-Rum: 22). Artinya, keragaman bukan sesuatu yang cukup ditoleransi, tetapi sesuatu yang layak direnungkan. Taman seperti ini, kalau dikunjungi dengan cara pandang yang tepat, bisa menjadi pintu untuk mengajarkan hal itu kepada anak-anak.

Cihampelas dan Sisi Lain yang Tidak Ada di Brosur

Tidak semua bagian perjalanan berjalan sesuai harapan. Saya sempat mencari kaos khas Bandung untuk oleh-oleh anak-anak. Atas rekomendasi teman, saya menuju Jalan Cihampelas yang dikenal sebagai pusat belanja. Ternyata banyak tokonya tutup. Menurut orang-orang sekitar, banyak toko di sana tutup karena dampak pandemi.

Momen ini justru menjadi salah satu yang paling saya ingat. Sebuah kawasan yang dulu ramai bisa berubah karena peristiwa yang tidak dibayangkan siapa pun sebelumnya. Rekomendasi teman tidak salah; hanya saja kota terus bergerak, dan informasi yang kita bawa bisa tertinggal dari kenyataan di lapangan.

Di sinilah perjalanan memberi pelajaran yang tidak ada di brosur wisata. Allah berulang kali mengajak manusia untuk berjalan di muka bumi lalu memperhatikan (misalnya QS. Ar-Rum: 9 dan QS. Al-An’am: 11). Perintah itu bukan sekadar untuk melihat yang indah, tetapi juga untuk memperhatikan perubahan, naik turunnya keadaan, dan apa yang bisa dipelajari darinya. Toko yang tutup di Cihampelas adalah pengingat bahwa tidak ada keramaian yang dijamin abadi, baik dalam usaha, organisasi, maupun kehidupan pribadi.

Yang Membuat Sebuah Kota Berkesan

Kembali ke pertanyaan awal: apa yang membuat Bandung berkesan bagi saya? Bukan karena semuanya sempurna. Jalannya macet, waktu saya sempit, dan rencana belanja oleh-oleh sebagian gagal. Kesannya justru datang dari perpaduan hal-hal yang membuat saya berpikir: kota yang dibentuk oleh pegunungan di sekelilingnya, jejak sejarah tentang bangsa-bangsa yang saling mengenal, taman yang memperlihatkan keragaman dunia, dan sudut kota yang jujur memperlihatkan dampak sebuah krisis.

Mungkin di situlah bedanya perjalanan yang sekadar dikunjungi dan perjalanan yang benar-benar dialami. Yang pertama menghasilkan foto. Yang kedua menghasilkan cara pandang. Keduanya sah, tetapi hanya yang kedua yang tetap tinggal lama setelah kita pulang.

Perjalanan perdana ini saya lakukan tanpa keluarga. Sepanjang jalan, terutama di The Great Asia Afrika, saya terus membayangkan bagaimana reaksi anak-anak kalau berada di sana. Semoga perjalanan berikutnya ke Bandung bisa bersama pasukan TrioF Family. Barangkali nanti saya akan melihat kota yang sama dengan cara yang berbeda, karena kota tidak berubah, tetapi orang yang kita ajak berjalan bisa mengubah apa yang kita lihat. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *