Rahasia Hidup Lapang: Belajar Memahami Arti Keberkahan

“Hidup yang lapang bukan selalu tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang merasakan keberkahan dari apa yang telah Allah berikan.”

Bagikan:

agar hidup lapang
Daftar Isi

Ada orang yang waktunya banyak, tetapi merasa tidak pernah punya waktu. Ada yang rezekinya cukup, bahkan berlebih, tetapi hidupnya tetap terasa sempit. Ada pula yang usianya panjang, tetapi ketika menoleh ke belakang, ia merasa tidak banyak yang benar-benar bernilai dari tahun-tahun yang telah dilaluinya.

Mungkin karena kita terlalu sering mengukur kehidupan dengan jumlah. Berapa banyak uang yang kita miliki, berapa lama usia kita, seberapa besar pekerjaan yang kita jalankan, atau sebanyak apa pencapaian yang berhasil kita kumpulkan. Padahal, banyak tidak selalu berarti lapang. Ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar jumlah: keberkahan.

Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menuturkan:

وليست سعة الرزق والعمل بكثرته، ولا طول العمر بكثرة الشهور والأعوام، ولكن سعة الرزق والعمر بالبركة فيه

“Kelapangan rezeki dan pekerjaan bukan karena banyaknya, dan panjangnya umur bukan karena banyaknya bulan dan tahun. Sesungguhnya kelapangan rezeki dan umur adalah karena keberkahan yang ada di dalamnya.”
— ad-Da’ wa ad-Dawa’

Banyak Belum Tentu Membuat Hidup Lapang

Kita sering menganggap solusi dari hidup yang terasa sempit adalah menambah sesuatu. Ketika penghasilan terasa kurang, kita ingin mendapatkan lebih banyak. Ketika pekerjaan terasa berat, kita mengambil lebih banyak sumber daya. Ketika merasa belum cukup berhasil, kita menambah target dan pencapaian.

Tidak ada yang salah dengan berusaha memperbaiki keadaan. Masalahnya muncul ketika kita mengira bahwa penambahan selalu menghasilkan kelapangan. Kenyataannya, seseorang bisa memiliki penghasilan yang meningkat tetapi kebutuhan dan kekhawatirannya ikut meningkat. Seseorang bisa memiliki banyak aktivitas tetapi semakin sedikit waktu untuk keluarga, ibadah, dan dirinya sendiri.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, “Bagaimana mendapatkan lebih banyak?”, tetapi juga, “Bagaimana agar apa yang sudah Allah berikan menjadi lebih bernilai?” Di situlah konsep keberkahan menjadi penting.

Keberkahan membuat sesuatu yang secara jumlah tampak biasa menjadi memiliki manfaat yang jauh lebih besar. Waktu yang terbatas dapat menghasilkan karya yang panjang manfaatnya. Rezeki yang tidak berlebihan dapat mencukupi kebutuhan dan menghadirkan ketenangan. Umur yang tidak terlalu panjang dapat meninggalkan ilmu dan amal yang terus hidup setelah seseorang tiada.

Keberkahan Mengubah Cara Kita Melihat Rezeki

Rezeki tidak hanya soal angka yang masuk ke rekening. Ilmu adalah rezeki. Kesehatan adalah rezeki. Waktu adalah rezeki. Kesempatan bertemu orang-orang baik juga rezeki. Bahkan kemampuan untuk menggunakan apa yang kita miliki pada jalan yang benar merupakan bagian dari nikmat yang sering tidak kita hitung.

Karena itu, keberkahan bukan sekadar persoalan mendapatkan sesuatu, tetapi juga bagaimana sesuatu itu digunakan. Penghasilan yang besar tetapi habis tanpa arah belum tentu lebih baik daripada penghasilan yang sederhana tetapi mampu mencukupi keluarga, membantu orang lain, dan membuat pemiliknya semakin dekat kepada Allah.

Begitu pula dengan waktu. Dua orang bisa sama-sama memiliki dua puluh empat jam dalam sehari, tetapi hasil yang lahir dari waktu mereka bisa sangat berbeda. Perbedaannya bukan pada jumlah jam, melainkan pada bagaimana waktu itu digunakan dan apa yang Allah bukakan melalui waktu tersebut.

Al-Qur’an bahkan mengaitkan keberkahan dengan iman dan ketakwaan. Allah berfirman:

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A’raf: 96)

Ayat ini mengingatkan bahwa keberkahan bukan sesuatu yang semata-mata dapat kita ciptakan dengan strategi duniawi. Ada hubungan antara keberkahan dengan hubungan kita kepada Allah. Ikhtiar tetap penting, tetapi di atas ikhtiar itu ada ketaatan, doa, dan ketakwaan.

Umur Pendek, Tetapi Manfaatnya Panjang

Salah satu contoh yang sering membuat saya merenung adalah kehidupan Imam an-Nawawi rahimahullah. Beliau wafat pada usia sekitar 45 tahun, sebuah usia yang dalam ukuran manusia modern sebenarnya belum terlalu panjang. Namun, karya dan ilmunya terus dipelajari hingga berabad-abad setelah beliau meninggal.

Kita mengenal Riyadhus Shalihin, Al-Arba’in an-Nawawiyyah, Syarh Shahih Muslim, dan berbagai karya lainnya. Tentu kita tidak bisa menyederhanakan seluruh pencapaian beliau hanya dengan satu kata, tetapi kisah tersebut memberi gambaran tentang apa yang dimaksud dengan umur yang diberkahi.

Ada orang yang hidup puluhan tahun tetapi jejak manfaatnya berhenti ketika ia meninggal. Ada pula yang usianya relatif singkat, tetapi ilmu, karya, dan amalnya terus memberikan manfaat jauh setelah ia tidak lagi berada di dunia.

Ini membuat kita melihat umur dengan cara yang berbeda. Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa lama saya hidup?”, tetapi juga, “Apa yang tumbuh dari hidup saya?”

Jangan Hanya Meminta Tambahan, Mintalah Keberkahan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu boleh meminta rezeki yang lebih luas, kesehatan yang lebih baik, umur yang panjang, dan pekerjaan yang lebih baik. Tetapi jangan berhenti pada permintaan agar jumlahnya bertambah. Kita juga perlu memohon agar apa yang Allah berikan memiliki keberkahan.

Sebab, tambahan tanpa keberkahan bisa menjadi beban. Uang yang bertambah dapat memperbesar gaya hidup. Jabatan yang meningkat dapat memperbesar kesombongan. Kesibukan yang semakin padat dapat membuat seseorang kehilangan waktu untuk hal-hal yang justru paling penting. Bahkan ilmu yang banyak, jika tidak disertai amal, bisa menjadi sesuatu yang tidak membawa perubahan berarti pada diri pemiliknya.

Maka, barangkali salah satu doa yang perlu lebih sering kita panjatkan adalah agar Allah memberkahi apa yang telah diberikan kepada kita: waktu kita, rezeki kita, keluarga kita, pekerjaan kita, ilmu kita, dan amal kita.

Sebab hidup yang lapang tidak selalu berarti hidup dengan lebih banyak. Bisa jadi, hidup yang lapang adalah ketika apa yang kita miliki ternyata cukup, bermanfaat, dan membawa kita semakin dekat kepada Allah.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak dapat menentukan berapa banyak tahun yang akan kita jalani atau seberapa besar rezeki yang akan kita terima. Tetapi kita dapat terus memperbaiki cara kita menggunakan keduanya. Kita dapat memilih untuk tidak sekadar mengejar lebih banyak, tetapi juga mengejar keberkahan.

Barangkali itulah yang membuat seseorang tetap merasa cukup di tengah keterbatasan, tetap produktif di tengah waktu yang terbatas, dan tetap meninggalkan manfaat meskipun hidupnya tidak panjang.

Bukan selalu tentang seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang Allah tumbuhkan dari apa yang kita punya. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *