Ada perbedaan besar antara bepergian sendirian dan bepergian sambil membawa orang lain. Saat sendirian, kita bisa menunda makan, tidur di mana saja, atau mengubah rencana di tengah jalan tanpa banyak pertimbangan. Begitu ada orang lain yang ikut, terutama anak-anak kecil, setiap keputusan kecil tiba-tiba punya akibat yang lebih luas. Pelajaran ini saya rasakan sendiri ketika mengajak keluarga ke Jakarta pada akhir Mei 2013.
Waktu itu saya berangkat untuk menghadiri Muktamar Khilafah 2013 yang digelar pada 2 Juni di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sekalian, saya berniat mengajak istri dan dua anak kami yang masih kecil untuk berkeliling Jakarta. Saya sudah cukup terbiasa bepergian ke luar kota, jadi merencanakan perjalanan bukan hal baru. Namun kali ini ada satu hal yang membuatnya berbeda, dan justru dari perbedaan itulah saya belajar paling banyak.

Bukan Liburan, tetapi Perjalanan
Saya sengaja tidak menyebut perjalanan ini sebagai liburan. Kata “liburan” sering membawa bayangan tempat-tempat hiburan yang mewah dan mahal, padahal bukan itu yang kami cari. Yang kami inginkan sederhana: berjalan bersama, melihat tempat baru, dan menghabiskan waktu sebagai keluarga di luar rutinitas sehari-hari.




Sejak punya anak, saya dan istri memang jarang mengagendakan perjalanan ke luar kota. Kesibukan, biaya, dan repotnya membawa anak kecil membuat rencana seperti ini sering tertunda tanpa batas waktu. Karena itu, ketika ada kesempatan yang bisa digabungkan dengan agenda yang memang harus saya hadiri, saya merasa ini saat yang tepat. Nilai sebuah perjalanan ternyata tidak ditentukan oleh seberapa mewah tujuannya, tetapi oleh dengan siapa kita menjalaninya.
Ketika yang Dibawa Berubah, Cara Merencanakan Ikut Berubah
Di sinilah letak tantangannya. Pengalaman bepergian sendiri ternyata tidak bisa dipindahkan begitu saja ke perjalanan keluarga. Saat sendirian, ukuran sebuah rencana adalah stamina dan kenyamanan saya sendiri. Saat membawa anak-anak, ukurannya bergeser ke anggota rombongan yang paling kecil dan paling mudah lelah.




Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan perjalanan dengan cara yang sangat jujur. Beliau bersabda bahwa safar adalah sepotong azab, karena ia menghalangi seseorang dari makan, minum, dan tidurnya (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927). Jika orang dewasa saja merasakannya, anak-anak tentu merasakannya lebih berat. Dari sudut pandang ini, merencanakan perjalanan keluarga pada dasarnya adalah upaya mengurangi “potongan azab” itu bagi orang-orang yang kita bawa.
Kesadaran ini mengubah pertanyaan yang saya ajukan saat merencanakan. Pertanyaannya tidak lagi sekadar “ke mana kita akan pergi?”, tetapi “seberapa jauh anak-anak sanggup berjalan?”, “di mana kami bisa beristirahat?”, dan “apa yang terjadi kalau mereka lapar di tengah perjalanan?”. Rencana yang baik bukan rencana yang paling padat, melainkan rencana yang paling sesuai dengan kemampuan orang yang menjalaninya.
Berbagi Peran: Rencana yang Baik Jarang Dikerjakan Sendirian
Untuk mempersiapkan perjalanan ini, saya dan istri membagi tugas. Urusan teknis perjalanan menjadi bagian saya, sedangkan perbekalan dan persiapan anak-anak menjadi bagian istri. Pembagian ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya terasa besar karena setiap detail punya pemilik yang jelas.

Setelah urusan tiket pulang pergi beres sekarang giliran saya mencari penginapan murah meriah yang nyaman. Sayapun mulai mencari di sekitaran Stadion Gelora Bung Karno tempat di mana dilangsungkan acara Muktamar Khilafah. Alhamdulillah pula saya berhasil menemukan penginapan murah sesuai budget yang lumayan nyaman untuk diinapi.
Saya sering melihat pola yang mirip dalam organisasi. Banyak rencana gagal bukan karena gagasannya buruk, melainkan karena ada detail penting yang tidak dipegang siapa pun. Semua orang mengira orang lain yang akan mengurusnya, lalu masalah baru disadari ketika sudah terlambat. Dalam keluarga maupun tim kerja, pembagian peran yang jelas adalah bagian dari perencanaan itu sendiri, bukan pelengkapnya.
Hadits yang sangat terkenal tentang kepemimpinan menggambarkan hal ini dengan indah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya; seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Hadits ini tidak menempatkan tanggung jawab di satu pundak saja. Masing-masing memegang wilayahnya, dan keduanya akan ditanya tentang wilayah itu.
Detail Kecil yang Menentukan
Setelah peran dibagi, saya mulai mengerjakan bagian saya. Saya mencari tiket promo jauh-jauh hari sebelum keberangkatan melalui internet, dan alhamdulillah berhasil mendapatkan tiket pulang-pergi dengan harga terjangkau. Mencari jauh-jauh hari bukan hanya soal harga, tetapi juga soal memberi diri sendiri pilihan sebelum pilihan itu habis.
Langkah berikutnya adalah mencari penginapan. Saya sengaja mencarinya di sekitar Stadion Gelora Bung Karno, tempat acara utama berlangsung, dan menemukan penginapan yang sesuai anggaran serta cukup nyaman untuk keluarga. Jika dipikir ulang, keputusan ini mengikuti logika sederhana: agenda yang paling penting sebaiknya menjadi agenda yang paling mudah dijangkau.
Rute perjalanan saya susun dengan bantuan Google Maps. Sehari sebelum Muktamar, kami merencanakan kunjungan ke Kebun Binatang Ragunan. Esok harinya kami menghadiri Muktamar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, lalu setelah itu berkunjung ke Monumen Nasional, Kota Tua, dan pusat perbelanjaan Mangga Dua. Selama di Jakarta, kami banyak mengandalkan TransJakarta yang membuat kami bisa berkeliling dengan cukup nyaman dan biaya yang ekonomis.




Buah Perencanaan: Bisa Hadir Sepenuhnya
Alhamdulillah, hampir tidak ada kendala selama kami berkeliling Jakarta hingga kembali ke kampung halaman. Kata “hampir” itu penting, karena perencanaan tidak pernah menjamin semuanya berjalan sempurna. Namun, ada satu hal yang baru saya sadari belakangan tentang manfaat perencanaan yang matang.


Buah terbesar dari perencanaan bukan sekadar perjalanan yang lancar, melainkan kesempatan untuk benar-benar hadir. Ketika tiket, penginapan, rute, dan perbekalan sudah beres sebelum berangkat, pikiran tidak lagi sibuk memadamkan masalah di tengah jalan. Perhatian bisa diberikan sepenuhnya kepada istri dan anak-anak, kepada momen yang sedang dijalani bersama. Tanpa perencanaan, kita memang tetap bisa sampai di tempat tujuan, tetapi sering kali kita tidak sungguh-sungguh ada di sana.
Al-Qur’an mengajak kita untuk memperhatikan apa yang telah kita siapkan untuk hari esok: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini pertama-tama berbicara tentang persiapan menuju akhirat. Namun semangatnya, yaitu kebiasaan menengok ke depan sebelum melangkah, adalah sikap yang juga membentuk cara kita menjalani urusan dunia, sekecil apa pun urusannya.
Pelajaran yang Bisa Dibawa Pulang


Perjalanan ini mengingatkan saya bahwa perencanaan selalu berangkat dari tujuan yang jelas, dan tujuan itu harus dirumuskan bersama orang-orang yang ikut menjalaninya. Dalam pekerjaan, dakwah, atau organisasi, prinsipnya sama. Seorang pemimpin yang merencanakan berdasarkan kecepatannya sendiri akan meninggalkan anggota timnya di belakang, lalu heran mengapa rencana yang tampak sempurna di atas kertas tidak berjalan di lapangan.
Ada tiga pertanyaan sederhana yang kini sering saya gunakan sebelum merencanakan sesuatu yang melibatkan orang lain. Pertama, siapa yang paling rentan dalam rombongan ini, dan apakah rencananya sudah memperhitungkan dia? Kedua, siapa yang memegang detail apa, sehingga tidak ada hal penting yang menggantung tanpa pemilik? Ketiga, apa agenda yang paling penting, dan sudahkah ia dibuat paling mudah dijangkau?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak rumit, tetapi mudah terlewat ketika kita merasa sudah berpengalaman. Justru pengalaman sering membuat kita lupa bahwa situasi telah berubah. Saya berpengalaman bepergian sendiri, tetapi perjalanan bersama keluarga menuntut cara berpikir yang berbeda.
Penutup
Kalau dipikir lagi, perjalanan ke Jakarta itu bukan hanya tentang Ragunan, Monas, atau Kota Tua. Ia mengajarkan bahwa semakin banyak orang yang kita bawa, semakin besar tanggung jawab yang melekat pada setiap rencana yang kita buat. Perencanaan yang matang bukan tanda bahwa kita ingin mengendalikan segalanya, melainkan tanda bahwa kita peduli pada orang-orang yang mempercayakan perjalanannya kepada kita.
Mungkin pertanyaan yang layak kita bawa pulang adalah ini: dalam perjalanan hidup yang sedang kita pimpin, entah keluarga, tim, atau jamaah, apakah kita merencanakan untuk diri sendiri, atau untuk mereka yang berjalan di belakang kita? [af]







Tinggalkan Balasan