Hampir semua orang pernah membuat keputusan besar tentang dirinya sendiri. Setelah mengikuti pelatihan, mendengar kajian yang menggugah, atau saat pergantian tahun, kita berkata dalam hati bahwa mulai sekarang kita akan lebih sabar, lebih positif, dan lebih tenang menghadapi orang. Beberapa hari kemudian, ada rapat yang berjalan buruk, pesan yang tidak dibalas, atau target yang meleset, dan keputusan itu pelan-pelan hilang tanpa pernah kita umumkan sebagai gagal. Pertanyaannya, apakah keputusan kita yang keliru, atau cara kita merawat keputusan itu?
Kita Terlalu Sibuk Memutuskan dan Terlalu Sedikit Merawat
John C. Maxwell, dalam The Difference Maker, menyebut salah satu penemuan terpentingnya: kita terlalu menekankan pembuatan keputusan dan terlalu sedikit memikirkan pengelolaan keputusan yang sudah dibuat. Menurutnya, orang yang berhasil bukan sekadar orang yang memutuskan dengan tepat, tetapi orang yang memutuskan dengan cepat lalu mengelola keputusan itu setiap hari. Saya menemukan gagasan ini relevan jauh di luar urusan sikap. Banyak organisasi, tim, bahkan pribadi, kuat sekali dalam momen peluncuran dan lemah dalam hari-hari sesudahnya.
Keputusan itu seperti menanam. Momen menanam memang terasa penting karena ada tanahnya, ada bibitnya, dan ada foto yang bisa diambil. Padahal yang menentukan apakah pohon itu hidup adalah penyiraman yang membosankan, hari demi hari, tanpa sorotan siapa pun. Keputusan bersikap positif yang tidak pernah “disiram” akan layu seperti bibit yang dibiarkan.
Mengapa Keputusan yang Bagus Pudar Begitu Cepat
Ada alasan sederhana mengapa ini terjadi. Keputusan dibuat saat kita jernih, sedangkan ujiannya datang saat kita lelah, tertekan, atau tersinggung. Orang yang memutuskan “saya akan bersabar” di pagi hari yang tenang sedang membuat janji untuk dirinya yang berada dalam situasi berbeda, yaitu dirinya yang nanti sore menghadapi keluhan, kritik, atau kegagalan. Tanpa persiapan, versi diri yang sedang lelah itu akan bertindak berdasarkan kebiasaan lamanya, bukan berdasarkan keputusan barunya.
Karena itu, Maxwell mengatakan kabar baiknya: mempertahankan sikap yang baik jauh lebih mudah daripada berusaha merebutnya kembali setelah hilang. Siapa pun yang pernah berusaha berbaikan dengan anggota tim setelah marah-marah, atau memulihkan semangat setelah berminggu-minggu mengeluh, tahu bahwa biaya perbaikan jauh lebih mahal daripada biaya perawatan. Merawat sikap setiap hari terasa merepotkan, tetapi sebenarnya itu pilihan yang lebih murah.
Sikap Dimulai dari Pagi, tetapi Tidak Selesai di Pagi
Maxwell mengutip dua kalimat yang sering diulang. Peribahasa Tiongkok menyarankan kita menerima kegembiraan yang belum kita rasakan, karena tak lama lagi kita akan merasakan kegembiraan yang kita terima itu. Elbert Hubbard, seorang editor dan penerbit, menyatakan bahwa kalau kita bisa bergembira sampai pukul sepuluh pagi, sisa hari biasanya akan mengikuti. Kedua kalimat ini mudah disalahpahami sebagai ajakan berpura-pura bahagia, padahal maksudnya lebih praktis: perasaan sering mengikuti keputusan dan tindakan, bukan sebaliknya.
Artinya, kita tidak perlu menunggu perasaan baik untuk memulai sikap yang baik. Saat bangun, kita bisa mengingat kembali keputusan yang sudah dibuat, lalu mengarahkan pikiran dan tindakan agar sejalan dengannya. Itu pekerjaan yang konkret. Ia menuntut kita memperhatikan apa yang sedang kita pikirkan, kata apa yang akan kita pilih, dan bagaimana kita memperlakukan orang pertama yang kita temui hari itu.
Sebuah Ilustrasi dari Hari Kerja
Bayangkan, sebagai ilustrasi, seorang pemimpin tim lapangan yang memutuskan untuk lebih positif kepada timnya. Pagi itu semuanya terasa mudah. Namun siangnya laporan target ternyata jauh di bawah harapan, dan salah satu anggota tim terlambat mengirim data untuk ketiga kalinya. Tanpa pengelolaan, reaksi spontannya adalah nada tinggi, sindiran, atau diam yang dingin, dan keputusan pagi tadi pun runtuh dalam satu percakapan.
Pemimpin yang mengelola keputusannya akan bekerja berbeda. Sejak pagi ia sudah tahu bahwa titik rawannya adalah laporan siang dan keterlambatan data, jadi ia menyiapkan diri: menunda reaksi sepuluh menit, memulai dengan pertanyaan tentang kendala sebelum menilai, lalu menyampaikan koreksi tanpa merendahkan. Hasil akhirnya mungkin sama, yaitu data tetap harus diperbaiki, tetapi hubungan dan suasana tim tidak ikut rusak. Perbedaannya bukan pada seberapa kuat tekadnya, melainkan pada apakah keputusannya punya rencana harian.
Cara Merawat Keputusan Sikap
Jika sikap adalah keputusan yang perlu dikelola, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, tuliskan keputusannya dalam satu kalimat yang konkret, misalnya “saya akan mendengar dulu sebelum menanggapi”, bukan kalimat umum seperti “saya akan lebih positif”. Kedua, kenali tiga situasi yang paling sering membuat kita bereaksi buruk, lalu putuskan sejak pagi apa yang akan kita lakukan ketika situasi itu datang. Ketiga, perhatikan apa yang kita masukkan ke pikiran, karena sikap dibentuk oleh bahan yang kita konsumsi, mulai dari percakapan, bacaan, sampai kebiasaan membuka ponsel pertama kali di pagi hari.
Keempat, evaluasi singkat di malam hari. Cukup dua pertanyaan: di mana hari ini saya bertindak sesuai keputusan saya, dan di mana tidak? Evaluasi ini sebaiknya tidak berubah menjadi sidang untuk menyalahkan diri, karena tujuannya hanya menyetel ulang untuk esok hari. Jika dilakukan terus, pola yang tersembunyi akan terlihat dengan sendirinya.
Perubahan Bertahan Karena Dirawat
Dalam tradisi Islam, gagasan ini punya akar yang kuat. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini sering dipakai untuk bicara tentang perubahan besar, tetapi ia juga mengingatkan bahwa perubahan dimulai dari dalam, dari cara kita berpikir dan bersikap, bukan dari menunggu keadaan lebih ramah.
Soal konsistensi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dilakukan meskipun sedikit (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha). Hadits ini menggeser ukuran kita. Yang dinilai bukan seberapa besar semangat di hari pertama, tetapi seberapa setia kita pada keputusan di hari-hari biasa. Dan sejalan dengan itu, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan nasihat Nabi ﷺ agar orang yang berada di sore hari tidak menunggu pagi, dan yang berada di pagi hari tidak menunggu sore (HR. Bukhari no. 6416). Hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita pegang.
Hari Ini Adalah Tempat Keputusan Diuji
Kita sering merasa hidup berubah oleh keputusan-keputusan besar, tetapi mungkin yang lebih sering terjadi adalah hidup berubah oleh cara kita menjalani hari-hari yang tampak biasa setelah keputusan itu dibuat. Sikap yang baik jarang runtuh dalam satu peristiwa dramatis. Ia biasanya terkikis oleh puluhan reaksi kecil yang tidak sempat kita perhatikan.
Maka pertanyaan yang layak kita bawa pulang bukan lagi “apa yang ingin saya putuskan tentang diri saya?”, melainkan “keputusan apa yang sudah pernah saya buat, tetapi belum saya rawat hari ini?” [af]







Tinggalkan Balasan