Tanpa terasa, 18 Oktober 2012 menandai tiga tahun kita bersama. Kalau dihitung dengan kalender, tiga tahun bukan waktu yang lama. Namun saat saya menengok ke belakang, rasanya banyak sekali yang sudah kita lewati: hari-hari yang ringan, hari-hari yang berat, dan beberapa hari yang ingin saya ulang agar bisa saya jalani dengan lebih baik. Di momen seperti ini saya bertanya pada diri sendiri: sebenarnya apa yang diukur dari usia sebuah pernikahan?
Tiga Tahun yang Cukup untuk Saling Mengenal
Ada anggapan bahwa tahun-tahun awal pernikahan adalah masa paling manis. Sebagian memang benar. Tetapi bagi saya, tahun-tahun awal justru masa ketika dua orang mulai melihat bentuk asli satu sama lain, termasuk kebiasaan, kelelahan, dan cara masing-masing menghadapi masalah. Di situlah suka dan duka mulai benar-benar terasa, bukan hanya sebagai kata dalam doa pernikahan.
Biduk kita sudah cukup jauh meninggalkan dermaga. Dalam perjalanan itu, tidak semua hari kita lalui dengan tenang. Ada kalanya kata-kata keluar lebih cepat daripada pertimbangan, dan ada sikap yang baru terasa salah setelah semuanya terjadi. Saya tidak ingin berpura-pura bahwa tiga tahun ini sempurna, karena justru dari ketidaksempurnaan itulah kita belajar saling memahami.
Mungkin usia pernikahan memang tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari seberapa banyak dua orang mau tetap belajar tentang satu sama lain. Tiga tahun yang dijalani dengan kesediaan untuk memahami bisa lebih bermakna daripada belasan tahun yang hanya dijalani bersama tanpa benar-benar saling mengenal.
Menjadi Pemimpin Ternyata Lebih Banyak Belajar
Sebelum menikah, saya membayangkan peran sebagai kepala keluarga itu soal mengambil keputusan dan menunjukkan arah. Setelah menjalaninya, saya menyadari bahwa menjadi pemimpin di rumah jauh lebih banyak berisi belajar daripada memerintah. Seorang pemimpin keluarga perlu belajar mendengar, menahan diri, dan menerima bahwa dirinya bisa salah.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya yang juga akan dimintai pertanggungjawaban (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Hadits ini dulu saya pahami sebagai kedudukan. Sekarang saya lebih melihatnya sebagai amanah yang berat, karena yang dipertanggungjawabkan bukan hanya keputusan besar, tetapi juga kata-kata kecil yang mungkin melukai.
Karena itu, melalui catatan ini saya ingin meminta maaf atas segala kata dan tingkah yang kurang berkenan selama saya memimpin dirimu dan anak-anak. Permintaan maaf ini bukan formalitas tahunan. Ini pengakuan bahwa saya masih belajar menjadi pemimpin yang layak bagi kalian.
Tentang Maaf yang Tidak Berhenti di Kata-Kata
Saya juga ingin meminta maaf karena belum bisa memberikan yang terbaik bagi kalian dalam segala hal. Ada hal-hal yang saya harapkan sudah bisa saya hadirkan, tetapi belum tercapai. Rasanya tidak jujur jika saya menutupi kenyataan itu dengan janji-janji yang terdengar indah.
Namun saya belajar bahwa maaf yang sungguh-sungguh selalu membawa komitmen di belakangnya. Meminta maaf tanpa kesediaan untuk berubah hanya memindahkan rasa bersalah, bukan menyelesaikannya. Maka bersama permintaan maaf ini, saya ingin menegaskan satu hal: selama raga ini masih berdiri, perjuangan untuk keluarga ini tidak akan pernah padam.
Komitmen itu tidak selalu tampak dalam hal besar. Kadang ia hanya berupa kesediaan untuk bangun lagi setelah hari yang melelahkan, atau kesabaran untuk menjelaskan sekali lagi. Hal-hal kecil seperti itulah yang, jika dikumpulkan, menjadi bukti bahwa sebuah janji benar-benar dijaga.
Bahtera, Ombak, dan Alasan untuk Tetap Satu Kapal
Saya sering membayangkan pernikahan sebagai sebuah kapal. Kapal tidak dibuat untuk tetap di pelabuhan, ia dibuat untuk berlayar dan menghadapi ombak. Yang membuat kapal tetap utuh bukan laut yang tenang, melainkan awak yang tidak meninggalkan kapalnya saat badai datang.

Allah berfirman bahwa di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan pasangan dari jenis kita sendiri agar kita merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kita rasa kasih dan sayang (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini mengingatkan saya bahwa ketenteraman dalam rumah tangga adalah karunia, bukan sesuatu yang otomatis ada. Karunia itu perlu dijaga, dan menjaganya berarti tetap memilih untuk berada di kapal yang sama, bahkan ketika perjalanan terasa berat.
Ada satu lagu yang selalu mengingatkan saya pada perjalanan ini, yaitu “Bahtera Cinta” dari Suara Persaudaraan. Lagu itu bercerita tentang dua hati yang dipersatukan dalam naungan Ilahi, lalu berlayar mengarungi kehidupan dengan ombak, badai, dan karang tajam yang tak terduga. Di ujungnya, ada doa agar keluarga itu diberkahi, menjadi sakinah, mawaddah, warahmah, dan bahagia hingga ke surga. Lagu itu saya titipkan untukmu, karena isinya hampir sama dengan apa yang ingin saya sampaikan, hanya dalam bentuk yang lebih indah.
Hingga Akhir, Hingga ke Surga-Nya
Setiap pelayaran memerlukan tujuan. Tanpa tujuan, kapal hanya akan terombang-ambing mengikuti arah angin. Bagi saya, tujuan pelayaran kita bukan sekadar hidup yang nyaman, tetapi berkumpul kembali di tempat yang lebih kekal.
Allah menjanjikan bahwa orang-orang beriman yang anak keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan akan dipertemukan kembali dengan keturunan mereka di surga (QS. Ath-Thur: 21). Ayat ini memberi saya gambaran yang sangat menenangkan: keluarga bukan hanya ikatan di dunia, tetapi bisa menjadi ikatan yang berlanjut setelahnya. Itulah sebabnya saya ingin kita terus berlayar hingga jauh, hingga akhir, hingga bahagia, hingga ke surga-Nya.
Maka tetaplah teguh di sisiku dan temani aku melewati petualangan panjang ini. Saya tidak tahu seperti apa ombak yang akan kita temui di depan. Tetapi saya tahu bahwa saya ingin menghadapinya bersamamu.
Doa yang Kita Bawa Berlayar
Tiga tahun ini mengajarkan saya bahwa pernikahan bukan tentang menemukan orang yang sempurna, melainkan tentang dua orang yang tidak sempurna yang terus memilih untuk saling menjaga. Dan pilihan itu tidak dibuat sekali di hari akad, tetapi diperbarui setiap hari, dalam hal-hal yang sering kali tidak terlihat.
Kepada Yang Maha Kuasa, saya memohon agar segala cita, asa, dan impian kita dikabulkan, dan agar bahtera ini tetap berada dalam penjagaan-Nya. Semoga hari-hari ke depan kian cerah. Salam cinta dan sayang, selalu.
Kutitip Lyric lagu dari Suara Persaudaraan “Bahtera Cinta” special untukmu.
Suara Persaudaraan : Bahtera Cinta
Bersemi Dua Hati
Dalam Naungan Ilahi
Bersatu Dalam Janji
Meniti Kehidupan Ini
Menjadi Raja Sehari
Di dampingi Ratu Suci
Bahagia Tak Terperi
Mendapat Karunia Ilahi
Hiduppun kan Segera Berlayar
Menerjang Ombak dan Badai
Membelah Dalamnya Lautan
Menembus Bayang-bayang
Waspada Aral Melintang
Karang-Karang Tajam
Menjadi Misteri
Mentiti Kehidupan
Semoga Alloh Memberkahi
Selalu Dalam Kebaikan
Dan Menjadikan Keluarga
Sakinah Mawaddah Warahmah
Oh Tuhan Tegarkanlah
Dalam Kasih dan Cinta-Mu
Bahagia selamanya
Hingga di dalam syurga-Mu..
Surabaya, 22 Oktober 2012, pukul 19.30 WIB
[af]







Tinggalkan Balasan