Perjalanan Perdana ke Surabaya: Menerima yang Tak Bisa Dipilih, Memilih dengan Cermat yang Bisa Dipilih

“Kualitas sebuah perjalanan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita kelola, bukan oleh apa yang kita keluhkan.”

Bagikan:

ikon kota Surabaya
Daftar Isi

Setiap perjalanan pertama ke kota yang belum pernah kita datangi selalu membawa dua hal sekaligus: rasa ingin tahu dan sedikit kecemasan. Kita tidak tahu jalan, tidak tahu harga, tidak tahu tempat mana yang layak disinggahi. Pada tahun 2012, saya mengalami itu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya. Kunjungan itu bukan liburan, melainkan perjalanan dinas, dan justru karena itu ada beberapa pelajaran kecil yang sampai sekarang masih terasa relevan.

Ketika Pilihan Tidak Ada di Tangan Kita

Saya berangkat dari Makassar menggunakan sebuah maskapai yang sejujurnya pernah membuat saya kurang nyaman. Pada salah satu perjalanan sebelumnya, ada masalah yang membuat kepercayaan saya terhadap maskapai ini menurun. Kalau boleh memilih, mungkin saya akan mengambil maskapai lain. Tetapi urusan tiket adalah kewenangan kantor, dan dalam perjalanan dinas, itu hal yang wajar.

Di sinilah saya belajar bahwa tidak semua hal dalam pekerjaan bisa disesuaikan dengan selera pribadi. Ada keputusan yang sudah ditetapkan oleh sistem, oleh atasan, atau oleh pertimbangan anggaran yang tidak selalu kita lihat secara utuh. Pilihannya tinggal dua: terus menggerutu sepanjang perjalanan, atau menerimanya dengan lapang dada dan fokus pada hal yang masih bisa kita kendalikan. Saya memilih yang kedua, meski awalnya terasa agak terpaksa. Bismillah, lalu berangkat.

Sikap ini sebenarnya sejalan dengan nasihat Rasulullah ﷺ kepada seorang sahabat yang bertanya apakah ia perlu mengikat untanya atau cukup bertawakal. Beliau menjawab, “Ikatlah, lalu bertawakallah” (HR. At-Tirmidzi no. 2517, dinilai hasan). Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi juga bukan berarti kita harus mengendalikan segalanya. Ada bagian yang menjadi tanggung jawab kita, dan ada bagian yang memang harus dilepaskan.

Perjalanan dari Juanda ke Surabaya Barat

Penerbangan Makassar–Surabaya hanya memakan waktu sekitar satu jam. Pesawat mendarat di Bandara Juanda, sementara tujuan saya adalah Benowo, di wilayah Surabaya Barat. Bagi yang belum pernah ke Surabaya, jaraknya cukup jauh dari bandara, sehingga perlu kendaraan yang bisa diandalkan.

Saya menggunakan taksi bandara. Waktu itu, tarifnya sekitar Rp135.000 ditambah biaya tol sekitar Rp10.000. Angka ini tentu sudah berubah sekarang, tetapi saya mencatatnya sebagai gambaran. Orang yang pertama kali datang ke sebuah kota biasanya paling cemas soal biaya transportasi, karena di situlah kita paling mudah merasa “tertipu” akibat tidak tahu harga wajar.

Memilih Penginapan Berdasarkan Durasi, Bukan Kebiasaan

Begitu tiba di Benowo, urusan pertama adalah mencari tempat tinggal. Kebiasaan umum dalam perjalanan dinas adalah menginap di hotel. Tetapi estimasi pekerjaan saya kali ini cukup panjang, kira-kira satu bulan. Untuk durasi seperti itu, hotel bukan pilihan yang paling masuk akal, baik dari sisi biaya maupun kenyamanan jangka panjang.

Setelah menyusuri daerah sekitar, saya memutuskan mencari kos-kosan. Jujur saja, bayangan saya waktu itu adalah kos ala mahasiswa: kamar sempit, fasilitas seadanya, dan cukup untuk sekadar tidur. Ternyata yang saya dapatkan jauh lebih baik. Saya menemukan Kost Executive di Jalan Manukan Tengah, Surabaya Barat, yang fasilitasnya kurang lebih setara hotel melati.

Kamarnya bersih dan nyaman, dilengkapi AC, TV, air panas dan dingin, lemari, meja kerja, kasur yang empuk, serta area parkir yang luas. Biayanya sekitar Rp2 juta per bulan pada tahun 2012. Untuk kebutuhan kerja selama sebulan, ini adalah keputusan yang sangat membantu.

Pelajaran kecil di sini cukup sederhana tetapi sering terlewat: keputusan yang baik lahir dari membaca kebutuhan, bukan dari mengikuti kebiasaan. Hotel memang lazim untuk perjalanan dinas, tetapi “lazim” belum tentu “tepat”. Ketika kita bertanya lebih dulu, berapa lama saya di sini dan apa yang sebenarnya saya butuhkan?, pilihan yang muncul sering kali lebih baik daripada yang kita bayangkan.

Mengapa Tempat Tinggal Itu Penting dalam Perjalanan

Mungkin ada yang menganggap urusan penginapan hanyalah detail kecil. Tetapi siapa pun yang pernah bekerja jauh dari rumah dalam waktu lama akan tahu bahwa tempat beristirahat sangat memengaruhi kualitas kerja. Tubuh yang lelah, tidur yang tidak nyenyak, dan suasana yang tidak tenang perlahan menggerus energi dan konsentrasi.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Safar (perjalanan) itu bagian dari azab. Ia menghalangi seseorang dari makan, minum, dan tidurnya” (HR. Al-Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927). Hadits ini bukan larangan bepergian, melainkan pengakuan jujur bahwa perjalanan itu melelahkan. Karena itu, mencari tempat tinggal yang layak bukanlah kemewahan, melainkan bagian dari menjaga diri agar amanah pekerjaan bisa ditunaikan dengan baik.

Menyisakan Ruang untuk Melihat Kota

Selama sebulan di Surabaya, saya memanfaatkan sela-sela waktu kerja untuk berkeliling. Beberapa tempat yang sempat saya kunjungi antara lain Jembatan Suramadu, Pusat Grosir Surabaya yang letaknya berdekatan dengan Pasar Turi, dan Kebun Binatang Surabaya (KBS), tempat saya sempat berfoto di depan gerbangnya.

Berpose di depan KBS

Perjalanan dinas memang identik dengan pekerjaan, tetapi akan terasa sayang jika kita pulang tanpa mengenal kota yang pernah kita tinggali selama berminggu-minggu. Melihat tempat baru membantu kita memahami bagaimana orang di daerah lain hidup, berdagang, dan bergerak. Al-Qur’an pun mengajak manusia untuk menjelajahi bumi: “Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya” (QS. Al-Mulk: 15). Bepergian bukan hanya soal sampai di tujuan, tetapi juga soal membuka mata.

Penutup: Dua Jenis Keputusan dalam Setiap Perjalanan

Kalau saya melihat kembali perjalanan pertama ke Surabaya itu, sebenarnya ada dua jenis keputusan yang saya hadapi. Yang pertama adalah keputusan yang tidak bisa saya pilih, seperti maskapai yang sudah ditentukan kantor. Yang kedua adalah keputusan yang sepenuhnya ada di tangan saya, seperti memilih tempat tinggal dan cara memanfaatkan waktu luang.

Sering kali kita menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengeluhkan hal pertama, sampai lupa mengurus hal kedua dengan sungguh-sungguh. Padahal kualitas sebuah perjalanan, dan mungkin juga kualitas sebuah pekerjaan, lebih banyak ditentukan oleh bagaimana kita mengelola apa yang ada dalam kendali kita.

Jadi, dalam perjalanan Anda berikutnya, entah itu dinas, liburan, atau perjalanan hidup yang lebih panjang, coba tanyakan: energi saya lebih banyak habis untuk hal yang tidak bisa saya ubah, atau untuk hal yang sebenarnya bisa saya perbaiki? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *