30 Menit di Ternate: Kesan Singkat dari Bumi Gamalama

“Saya hanya punya 30 menit di Ternate, tetapi waktu sesingkat itu cukup untuk membuat saya ingin kembali.”

Bagikan:

Daftar Isi

Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi Ternate. Hanya sekitar 30 menit saya berada di sana, bahkan belum sempat benar-benar meninggalkan area bandara. Tetapi waktu yang singkat itu ternyata cukup untuk membuat saya kagum. Begitu pesawat mendarat di Bandara Sultan Babullah, mata saya langsung tertuju pada Gunung Gamalama yang berdiri kokoh di hadapan saya. Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa kadang-kadang keindahan tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk meninggalkan kesan.

Transit yang Awalnya Terasa Merepotkan

Tujuan perjalanan saya kali itu adalah Manado. Karena tidak tersedia penerbangan langsung, saya harus transit terlebih dahulu di Ternate. Sejujurnya, ketika mengetahui tiket yang dipesankan admin kantor adalah tiket transit, saya sempat merasa kurang senang. Dalam pikiran saya, transit hanya akan menambah waktu perjalanan dan membuat perjalanan menjadi lebih panjang.

Tetapi ternyata, apa yang semula saya anggap sebagai sesuatu yang merepotkan justru menjadi bagian yang paling menarik dari perjalanan tersebut. Saya memang tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi Ternate. Namun, hanya dengan melihatnya dari sekitar bandara dan dari jendela pesawat, saya sudah mendapatkan kesan bahwa pulau ini menyimpan keindahan yang tidak biasa.

Ada pelajaran kecil dari pengalaman sederhana itu. Tidak semua hal yang pada awalnya kita anggap sebagai gangguan benar-benar menjadi kerugian. Kadang-kadang kita terlalu cepat menilai sebuah keadaan dari apa yang tidak kita sukai, sebelum sempat melihat apa yang mungkin diberikan oleh keadaan tersebut.

Gunung Gamalama yang Menyambut dari Kejauhan

Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika tiba di Ternate adalah Gunung Gamalama. Gunung yang menjulang di tengah pulau itu seolah menjadi latar utama yang membuat Ternate memiliki karakter tersendiri.

Dari atas pesawat, saya bisa melihat bagaimana permukiman tumbuh mengelilingi kaki gunung dan garis pantai membingkai pulau tersebut. Perpaduan antara gunung, laut, pepohonan, dan permukiman membuat pemandangan Ternate terlihat begitu khas. Saya hanya bisa memandanginya dari kejauhan, tetapi justru dari sana saya semakin menyadari betapa luas dan beragamnya ciptaan Allah.

Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan alam, bukan sekadar untuk mengaguminya, tetapi untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah di dalamnya. Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 190, Allah menyebut penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.

Barangkali perjalanan juga bisa menjadi salah satu cara untuk melakukan itu: berhenti sejenak dari rutinitas, melihat sesuatu yang belum pernah kita lihat, lalu menyadari bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada lingkaran kehidupan yang selama ini kita jalani.

Ternate, Pulau yang Membuat Penasaran

Ternate memiliki posisi geografis yang strategis. Tidak mengherankan jika wilayah ini sejak dahulu menjadi kawasan yang diperebutkan berbagai kekuatan karena letaknya yang penting dalam jalur perdagangan rempah-rempah.

Dari udara, saya bisa melihat pulau yang tampak padat tetapi tetap dikelilingi oleh bentang alam yang indah. Gunung Gamalama menjadi pusat perhatian, sementara garis pantai mengelilingi pulau seperti sebuah bingkai. Di kejauhan, saya juga sempat melihat Danau Tolire Besar yang tampak kehijauan dari atas.

Saya membayangkan, kalau pemandangan dari atas pesawat saja sudah seperti itu, tentu akan jauh lebih menarik jika suatu hari saya punya kesempatan menjelajahinya dari dekat. Ada tempat-tempat yang memang tidak cukup hanya dilihat melalui foto. Kita perlu datang, berjalan, berhenti, dan merasakan suasananya sendiri.

Nama Bandara yang Mengingatkan pada Sejarah

Ada satu hal menarik lainnya dari perjalanan singkat ini. Bandara yang saya singgahi bernama Bandara Sultan Babullah, mengambil nama salah satu tokoh penting dalam sejarah Ternate.

Sultan Babullah adalah Sultan Ternate ke-24 yang berkuasa pada 1570–1583. Ia dikenal sebagai salah satu penguasa terbesar Kesultanan Ternate dan berhasil memimpin perlawanan terhadap Portugis. Pada masa pemerintahannya, Ternate mencapai salah satu periode penting dalam sejarahnya.

Sejarah seperti ini membuat sebuah tempat terasa lebih hidup. Ternate bukan hanya tentang gunung dan pantai yang indah. Di balik bentang alamnya terdapat perjalanan panjang tentang perdagangan, kekuasaan, kerajaan, perjuangan, dan perjumpaan berbagai bangsa. Ketika kita mengetahui sedikit sejarah sebuah tempat, perjalanan ke sana terasa memiliki dimensi yang berbeda.

Baru 30 Menit, Sudah Ingin Kembali

Sayangnya, waktu saya di Ternate benar-benar singkat. Saya tidak sempat melihat banyak tempat secara langsung. Tetapi justru keterbatasan waktu itu membuat rasa penasaran saya semakin besar.

Saya ingin suatu hari bisa melihat Istana Kesultanan Ternate, Benteng Tolukko, dan berbagai peninggalan sejarah lainnya. Saya juga ingin menikmati tempat-tempat yang selama ini hanya saya lihat dari foto, seperti Pantai Sulamadaha, Danau Tolire, Danau Laguna, Pantai Bobane Ici, dan Batu Angus.

danau tolire di bumi ternate
Danau Tolire Besar

Mungkin perjalanan berikutnya ke Ternate tidak lagi sekadar transit. Saya ingin datang dengan waktu yang cukup untuk berjalan lebih jauh, melihat lebih dekat, berbincang dengan orang-orangnya, dan memahami bagaimana kehidupan berjalan di pulau yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama ini.

Tidak Semua Perjalanan Harus Sesuai Rencana

Saya berangkat menuju Manado dengan menganggap transit di Ternate sebagai sesuatu yang tidak perlu. Tetapi justru transit itulah yang membuat saya mengenal sebuah tempat yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi.

Pengalaman sederhana ini mengingatkan saya bahwa tidak semua bagian perjalanan harus berjalan persis seperti yang kita rencanakan. Ada kalanya sebuah “persinggahan” yang awalnya kita anggap sebagai hambatan justru menjadi bagian yang paling berkesan.

Dalam perjalanan hidup pun mungkin demikian. Kita sering memiliki tujuan yang jelas dan ingin segera sampai ke sana. Ketika harus berhenti, berbelok, atau melewati jalan yang tidak kita rencanakan, kita mudah menganggapnya sebagai pemborosan waktu. Padahal bisa jadi, justru di persinggahan itulah Allah memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Saya baru 30 menit berada di Ternate. Belum cukup untuk mengenalnya, apalagi mengklaim telah melihat keindahannya. Tetapi 30 menit itu sudah cukup untuk membuat saya berkata dalam hati: suatu hari saya ingin kembali.

Semoga Allah memberi saya kesempatan untuk menginjakkan kaki lebih lama di bumi Ternate, menikmati keindahannya, melihat jejak sejarahnya, dan mensyukuri apa yang Allah bentangkan di sana. Aamiin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *