Tarakan, Kota Minyak yang Miskin Minyak

“Kekayaan yang hanya tercatat dalam statistik belum tentu terasa sebagai kekayaan bagi masyarakat.”

Bagikan:

kota tarakan di malam hari
Daftar Isi

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi Tarakan, sebuah kota di bagian utara Pulau Kalimantan. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota minyak di Indonesia. Penduduknya pun cukup beragam, dengan masyarakat dari berbagai latar belakang suku seperti Dayak, Bugis, Makassar, Batak, dan berbagai kelompok lainnya.

Kesan pertama saya ketika tiba di Tarakan justru agak berbeda dari bayangan tentang sebuah kota yang dikenal sebagai daerah penghasil minyak. Pada siang hari, suasana kota terlihat relatif sepi. Tidak banyak aktivitas masyarakat yang terlihat di jalan-jalan utama. Sekilas, saya bahkan sempat berpikir, “Apakah kota ini sedang mengalami kemunduran?”

Ternyata kesimpulan awal saya keliru.

Hampir tiga pekan berada di Tarakan membuat saya memahami bahwa kehidupan sebuah kota tidak selalu bisa dinilai dari apa yang terlihat di permukaan. Aktivitas masyarakat memang tidak semuanya berlangsung di ruang-ruang yang mudah kita lihat. Ada nelayan yang bekerja di laut, pekerja minyak yang berada di lokasi kerja, pekerja tambak, pedagang yang beraktivitas di pasar-pasar tertentu, dan berbagai pekerjaan lain yang membuat denyut ekonomi kota tidak selalu tampak dari jalan utama.

Menariknya, suasana Tarakan justru terasa lebih hidup ketika malam tiba. Dari situ saya belajar satu hal sederhana: jangan terlalu cepat menyimpulkan keadaan sebuah tempat hanya dari apa yang terlihat dalam beberapa jam pertama.

Namun, ada satu hal lain yang cukup lama menyita perhatian saya selama berada di sana: persoalan bahan bakar minyak.

Kota penghasil minyak, tetapi antre BBM

Tarakan memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil minyak bumi. Bahkan, jejak aktivitas perminyakan masih dapat ditemukan di berbagai bagian kota. Salah satunya adalah sumur minyak yang menjadi pengingat bahwa kegiatan eksplorasi minyak pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kota ini.

Karena itu, saya cukup heran ketika melihat kondisi di lapangan. Untuk mendapatkan BBM di SPBU, masyarakat harus menghadapi antrean yang panjang. Pada pagi hari, kendaraan dapat mengular sedemikian panjangnya sehingga aktivitas warga ikut tersita hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Di sisi lain, jumlah SPBU yang tersedia juga terasa belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut membuat akses terhadap BBM resmi menjadi persoalan tersendiri.

Saya tentu tidak memahami secara mendalam bagaimana mekanisme penentuan kuota BBM, distribusi, maupun berbagai kebijakan yang mengaturnya. Sebagai orang awam yang kebetulan berada di sana, saya hanya melihat apa yang terjadi di lapangan: masyarakat membutuhkan BBM, sementara akses untuk mendapatkannya tidak selalu mudah.

Yang menarik, ketika kebutuhan tersebut tidak sepenuhnya dapat dipenuhi melalui saluran resmi, muncullah saluran lain.

Ketika kebutuhan menciptakan pasar

Di sepanjang jalan, saya justru lebih mudah menemukan penjual BBM eceran daripada menemukan SPBU. Mereka berjualan secara sederhana dengan memanfaatkan ruang yang tersedia, dan tentu saja harga yang ditawarkan berbeda dengan harga BBM di SPBU.

Dari sudut pandang ekonomi, sebenarnya fenomena ini cukup mudah dipahami. Ketika ada kebutuhan yang tinggi sementara akses terhadap barang tersebut terbatas, pasar akan mencari jalannya sendiri. Selama ada orang yang membutuhkan dan ada orang yang bersedia menyediakan, transaksi akan muncul.

Karena itu, saya tidak ingin melihat persoalan ini semata-mata sebagai persoalan pedagang BBM eceran yang menjual dengan harga lebih tinggi. Bagi saya, keberadaan mereka juga merupakan tanda bahwa ada kebutuhan masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani oleh sistem yang resmi.

Tentu saja, keberadaan pasar informal bukan berarti selalu baik atau harus dibiarkan. Ada persoalan keamanan, kualitas, pengawasan, dan kewajaran harga yang juga perlu diperhatikan. Tetapi keberadaannya memberi kita satu petunjuk penting: ketika sistem formal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, ruang kosong itu hampir selalu akan diisi oleh mekanisme lain.

Ironi sebuah kota minyak

Di sinilah saya melihat sebuah ironi yang cukup menarik.

Sebuah kota memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil minyak, tetapi masyarakatnya justru dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre mendapatkan BBM. Kota yang memiliki sumur minyak tidak serta-merta membuat masyarakatnya memiliki akses yang mudah terhadap bahan bakar.

Tentu saja, menjadi daerah penghasil minyak tidak berarti seluruh minyak tersebut dapat langsung digunakan oleh masyarakat setempat. Ada proses produksi, pengolahan, distribusi, kebijakan energi, kapasitas infrastruktur, hingga mekanisme penyaluran yang panjang. Tetapi justru karena itulah persoalannya menjadi menarik untuk dipikirkan lebih jauh.

Kekayaan sumber daya alam tidak otomatis berubah menjadi kemudahan hidup bagi masyarakat.

Ada banyak faktor yang menentukan apakah sebuah kekayaan benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat. Sumber daya harus dikelola, infrastruktur harus tersedia, distribusi harus berjalan, kebijakan harus tepat, dan kepentingan masyarakat harus benar-benar menjadi bagian dari pertimbangan.

Salah satu sumur minyak di Tarakan

Kalau salah satu mata rantai itu bermasalah, masyarakat mungkin hanya melihat hasil akhirnya: barang sulit diperoleh, harga menjadi mahal, atau waktu habis untuk mengantre.

Jangan hanya melihat apa yang ada di bawah tanah

Pengalaman di Tarakan membuat saya berpikir bahwa ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak cukup dilihat dari apa yang dimilikinya. Kita juga perlu melihat sejauh mana apa yang dimiliki itu mampu mengubah kehidupan masyarakat.

Sebuah daerah boleh saja kaya minyak, batu bara, gas, nikel, hutan, laut, atau sumber daya lainnya. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dirasakan masyarakat dari kekayaan tersebut?

Apakah mereka mendapatkan akses energi yang lebih baik? Apakah infrastrukturnya berkembang? Apakah lapangan pekerjaan bertambah? Apakah pelayanan publik semakin baik? Apakah aktivitas ekonomi masyarakat menjadi lebih mudah?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar menyebut sebuah daerah sebagai daerah kaya sumber daya alam.

Sebab kekayaan yang hanya tercatat dalam data statistik belum tentu terasa sebagai kekayaan bagi masyarakat yang hidup di dalamnya.

Pelajaran kecil dari perjalanan

Saya datang ke Tarakan dengan kesan awal yang ternyata keliru. Kota yang pada siang hari terlihat sepi ternyata memiliki kehidupan yang berjalan di tempat-tempat yang tidak langsung terlihat oleh mata. Dari situ saya belajar untuk tidak terlalu cepat menilai sebuah kota hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaannya.

Namun, pengalaman melihat antrean BBM memberikan pelajaran yang berbeda. Ia mengingatkan saya bahwa potensi dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda.

Sebuah daerah bisa memiliki potensi besar, tetapi potensi itu tidak otomatis menjadi manfaat. Diperlukan pengelolaan yang baik agar kekayaan yang ada benar-benar sampai kepada masyarakat dalam bentuk kehidupan yang lebih mudah dan lebih baik.

Mungkin karena itu, istilah “kota minyak” tidak cukup hanya dimaknai dari banyaknya minyak yang pernah atau sedang dihasilkan. Pada akhirnya, ukuran yang lebih penting adalah bagaimana kekayaan tersebut hadir dalam kehidupan orang-orang yang tinggal di sana.

Dan bagi saya, itulah ironi yang paling menarik dari Tarakan: kota yang dikenal sebagai kota minyak, tetapi masyarakatnya masih harus berjuang mendapatkan minyak. [af]

One response to “Tarakan, Kota Minyak yang Miskin Minyak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *